Beranda / berita / Jamaah KBIHU Al-Gratis Perdalam Fasal Perjalanan Menuju Arafah dalam Pengajian Kitab Al-Iidhah di Makkah

Jamaah KBIHU Al-Gratis Perdalam Fasal Perjalanan Menuju Arafah dalam Pengajian Kitab Al-Iidhah di Makkah

AKTUAL BERITA INDONESIA MAKKAH* — Menjelang fase puncak ibadah haji, jamaah KBIHU Al-Gratis (AG) Bangkalan kembali mengikuti pengajian rutin kitab turats ba’da Dhuhur di Musholla Shaza Asil Hotel, Kamis, 14 Mei 2026.

Pengajian kali ini membahas secara khusus Bab/Fasal Rangkaian Ibadah Menuju Arafah dan Berbagai Permasalahannya, dengan rujukan utama kitab _Al-Iidhah fii Manasikil Hajji wal Umroh_ karya Imam Nawawi rahimahullah. Materi ini menjadi salah satu pembahasan paling penting dalam manasik haji, karena fase perjalanan menuju Arafah merupakan inti terbesar dari seluruh rangkaian ibadah haji.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: _“Al-hajju Arafah”_, “Haji itu adalah Arafah” (HR. Tirmidzi dan lainnya).

Suasana musholla siang itu terasa khusyuk. Jamaah menyimak dengan serius karena memahami bahwa hari-hari besar haji yang akan datang membutuhkan kesiapan fisik, ilmu, dan mental. Dalam pengajian dijelaskan secara rinci tentang persiapan ihram menuju Arafah, tata cara keberangkatan jamaah, pelaksanaan wukuf, mabit di Muzdalifah, perjalanan menuju Mina, hingga berbagai persoalan fiqih yang sering terjadi di lapangan.

Jamaah juga diingatkan bahwa wukuf di Arafah merupakan rukun terbesar haji. Siapa yang tidak mendapatkan wukuf pada waktunya, maka hajinya tidak sah. Karena itu, Imam Nawawi dalam _Al-Iidhah_ menjelaskan pentingnya memahami batas waktu wukuf, batas wilayah Arafah, serta adab dan amalan selama berada di Padang Arafah.

Berbagai persoalan yang sering membuat jamaah bingung juga dibahas, antara lain jamaah terpisah dari rombongan, keterlambatan bus menuju Arafah, kondisi jamaah sakit atau lansia, masalah kelelahan, hingga kebingungan tata cara perpindahan dari Arafah menuju Muzdalifah dan Mina. Pada praktiknya, fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) sering menjadi ujian terbesar bagi jamaah haji karena jutaan manusia bergerak bersamaan, cuaca sangat panas, waktu istirahat terbatas, dan kondisi fisik mulai melemah.

Dalam penyampaiannya, Mohamad Djasuli menekankan agar jamaah tidak hanya mempersiapkan perlengkapan fisik, tetapi juga memperkuat kesabaran dan ketenangan hati. “Arafah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan momentum terbesar seorang hamba untuk menangis di hadapan Allah, memohon ampunan, dan berharap dilahirkan kembali tanpa dosa,” ujarnya. Karena itu, jamaah diminta memperbanyak doa, menjaga lisan, mengurangi keluhan, serta memperkuat niat ikhlas selama menjalani seluruh rangkaian Armuzna.

Pengajian juga menjelaskan bahwa para ulama Mazhab Syafi’i membahas manasik haji secara rinci agar jamaah tidak hanya mengikuti arus manusia, tetapi memahami dasar-dasar fiqih dari setiap amalan. Banyak persoalan haji di lapangan sebenarnya dapat diatasi dengan ilmu, ketenangan, dan pemahaman yang benar.

Pengajian rutin kitab kuning setiap siang yang dilaksanakan KBIHU AG kini menjadi ruang belajar sekaligus penguatan mental bagi jamaah. Di tengah kelelahan ibadah di Tanah Suci, musholla hotel menjadi tempat jamaah bertanya, meluruskan pemahaman, memperbaiki niat, dan mempersiapkan diri menghadapi puncak haji dengan lebih tenang.

Dengan semangat “Melayani Orang Ibadah Kewajiban Kami, Bukan Bisnis Kami,” KBIHU Al-Gratis terus berupaya mendampingi jamaah secara teknis perjalanan, ilmu, dan spiritual agar setiap ibadah dijalani dengan penuh kesadaran dan keyakinan.

Di siang Kota Makkah yang panas itu, pengajian kecil di musholla hotel kembali mengingatkan jamaah bahwa perjalanan menuju Arafah sejatinya bukan hanya perjalanan tubuh, melainkan perjalanan hati menuju ampunan Allah SWT.

Penulis isw89

Sumber KBIHU AL GRATIS

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *