AKTUAL BERITA INDONESIA SURABAYA Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 pada 20 Mei 2026 kembali mengingatkan publik pada berdirinya Boedi Oetomo di Jakarta pada 20 Mei 1908. Organisasi yang digagas Dr. Soetomo, Dr. Wahidin Soedirohusodo, H.O.S. Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, Eduard Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan mahasiswa STOVIA ini menjadi tonggak awal pergerakan nasional yang terorganisir. Boedi Oetomo fokus pada bidang sosial dan budaya untuk meningkatkan kesehatan, pendidikan, dan kebudayaan sebagai jalan membangkitkan kesadaran nasional, sebelum akhirnya menginspirasi organisasi pergerakan yang lebih politis.
Di tengah peringatan, muncul kekhawatiran bahwa semangat nasionalisme saat ini menghadapi ujian dari dalam negeri. Krisis ekonomi, kesenjangan sosial, dan ketidakpercayaan terhadap pemerintah disebut menjadi faktor utama yang menggerus loyalitas publik. Peningkatan PHK dan lemahnya perlindungan sosial memperparah kondisi, dengan potensi bonus demografi berubah menjadi beban jika angkatan kerja produktif tidak terserap industri.
Fenomena seperti penggunaan “bendera bajak laut One Piece” oleh sebagian anak muda dinilai sebagai bentuk ekspresi kekecewaan, bukan penolakan terhadap negara. Ekspresi ini mencerminkan keresahan terhadap sistem yang dianggap belum berpihak pada rakyat kecil. Kekecewaan itu diperparah oleh persoalan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang masih dianggap merajalela selama 28 tahun era reformasi.
Para pengamat menekankan bahwa penguatan nasionalisme memerlukan perbaikan di tiga bidang utama: pendidikan karakter, penguatan ekonomi dan sosial, serta tata kelola pemerintahan yang bersih. Penegakan hukum yang adil dan bebas KKN menjadi tuntutan mendesak, termasuk desakan untuk pengesahan Undang-Undang Perampasan Aset dan hukuman berat bagi koruptor agar ada efek jera.
Hari Kebangkitan Nasional diharapkan menjadi lebih dari sekadar seremonial. Momentum ini dinilai penting untuk refleksi dan tindakan nyata, termasuk memberi jaminan kesejahteraan bagi veteran yang masih hidup terlantar. Pesan utamanya sederhana: perjuangan bangsa belum selesai, dan menjaga persatuan serta keadilan sosial kini menjadi medan perjuangan yang baru.
Penulis isw89
Sumber eko gagak






